Green for World

GREEN FOR WORLD

Empowering Environmental Awareness for a Greener Tomorrow

Learn More
img_6a6201619611a8.29420001.jpeg

Quick Overview

Kertas Tisu Napkin Mengandung Serat Daur Ulang Teh Hijau – Mungkinkah Ide Kreatif ini Diterapkan di Indonesia?

Written by L. Indriati (Pengamat Lingkungan; Profesional BIdang Pulp & Kertas) on July 23, 2026

Sekitar jam 12.00 siang (Waktu Jepang) tanggal 16 Juni 2026, dalam perjalanan pulang dari Haneda, Tokyo, ke Cengkareng, Jakarta menggunakan penerbangan ANA NH 855, pramugari membagikan cemilan yang terdiri dari berbagai pilihan juice sehat, mangga, orange, apple, guava dan surprise… ada tomato juice juga. Selain itu dibagikan pula roti lengkap dengan tisu napkin. Untuk minumnya, saya memutuskan mencoba juice tomat dengan tambahan beberapa butir es. Ternyata sangat menyegarkan dan memberi rasa baru yang berbeda dengan juice buah seperti biasanya. Setelah menikmati roti yang diberikan, surprise lainnya adalah ketika membuka lipatan kertas tisu napkin yang tadinya akan saya gunakan untuk penyeka, saya terpaku pada tulisan yang tertera pada kertas tisu tersebut yang berbunyi “This napkin is made from materials blended with recycled Oi Ocha green tea leaves”. Wow, saya pikir luar biasa sekali tisu napkin yang akan saya gunakan ini terbuat dari serat yang didalamnya mengandung serat daur ulang daun teh hijau. Alhasil saya urungkan untuk menggunakan tisu tersebut dan saya mulai mengamati untuk melihat dan mempelajari keistimewaaan dari tisu napkin tersebut.

Agak menyimpang sedikit, sebelum membahas tentang tisu napkin yang mengandung serat daur ulang teh hijau, ada baiknya kita sedikit mengenal tentang teh hijau Jepang yang sangat terkenal dan sehari-hari kita sebut ocha. Setiap restoran di Jepang atau restoran Jepang yang ada di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, pasti menyajikan teh hijau atau ocha, baik hangat maupun dingin. Ocha adalah teh hijau tradisional Jepang yang kaya akan vitamin C, antioksidan yang bermanfaat bagi kesehatan seperti melancarkan metabolisme, menurunkan kadar kolesterol dan menjaga tekanan darah tetap normal. Teks “ITO EN” yang tertera pada tisu napkin yang saya terima ternyata merupakan perusahaan pencipta dan produsen teh hijau merk Oi Ocha sejak tahun 1989. Merk ini merupakan merk besar yang berkembang dan memimpin pasar teh hijau Jepang selama bertahun-tahun dan terus bertahan pada posisinya hingga saat ini.

Menurut beberapa referensi, ampas teh hijau ocha masih kaya akan antioksidan dan dapat didaur ulang untuk perawatan wajah, pupuk organik, atau bahan kerajinan. Dari sini saya mengerti, mengapa ada kertas tisu yang mengandung serat daur ulang teh hijau. Tidak seperti kertas tisu napkin pada umumnya yang polos dengan warna pulih atau warna lainnya, tisu yang saya amati berwarna putih dengan tebaran serat berwarna hijau yang berasal dari serat daur ulang teh hijau ocha. Sangat indah dan menarik; memberikan nuansa seni yang cantik dengan ide yang sangat kreatif. Serat daur ulang Oi Ocha merupakan serat yang bersumber dari industri teh hijau Oi Ocha yang dimanfaatkan sebagai salah satu serat dalam pembuatan kertas tisu napkin. Saya tidak akan masuk ke ranah bagaimana proses yang dilakukan mulai dari proses persiapan serat sampai menjadi lembaran kertas tisu napkin, karena tentu prosesnya sama dengan proses pembuatan kertas pada umumnya, namun yang lebih menggelitik saya adalah ide kreatif yang kemudian menghasilkan produk kertas tersebut. Sambil merenung, saya berpikir apakah ide kreatif yang sederhana ini dapat diimplementasikan di Indonesia? Tentunya dengan modifikasi untuk menyesuaikan dengan kondisi yang ada di Indonesia.

Kita bersama tahu bahwa Indonesia merupakan negara yg kaya akan berbagai jenis tanaman serat, khususnya tanaman serat bukan kayu baik yang berasal dari limbah pertanian maupun yang merupakan produk samping industri. Kita mengenal cukup banyak sumber serat bukan kayu seperti merang dan jerami, bagas, tandan kosong kelapa sawit, kenaf, abaka, kapas, serat nenas dan masih banyak lagi. Cukup banyak tulisan yang melaporkan bahwa serat-serat tersebut sangat potensial digunakan sebagai sumber serat untuk pembuatan kertas. Beberapa dekade yang lalu, pabrik kertas di Indonesia seperti PT. Kertas Leces, PT. Kertas Padalarang, PT. Kertas Banyuwangi, PT. Kertas Blabak, PT. Kertas Gowa telah memproduksi secara komersial kertas yang menggunakan serat merang, jerami, dan/atau bagas sebagai bahan bakunya. Namun sayang, beberapa pabrik kertas tersebut sudah tidak beroperasi, atau beralih menggunakan bahan baku serat lain yang tersedia secara komersial. Selain itu, ketersediaan bahan baku serat bukan kayu yang terbatas tidak memungkinkan untuk digunakan sebagai sumber serat pada produksi kertas berskala besar.

Dari pertanyaan mungkin-tidaknya ide kreatif tersebut diterapkan di Indonesia, jawabannya sebenarnya adalah “mungkin saja”. Namun mengingat kondisi di Indonesia, nerikut ini adalah hal yang perlu dipertimbangkan.

Pertama

Perlu mencari varian produk kertas/karton yang unik dan spesifik untuk pasar yang spesifik juga. Misalnya kertas/karton untuk produk kreatif dan kerajinan, atau untuk keperluan perhotelan dan pariwisata seperti tatakan gelas, alas makan, notes, notebook, kerta tisu napkin dan lain-lain. Produk-produk ini dapat menggunakan serat bukan kayu yang jenisnya cukup banyak di sekitar kita seperti yang telah disebutkan diatas. 

Kedua

Penggunaan teknologi proses pengolahan bahan baku serat yang sederhana tanpa menggunakan bahan kimia agar murah dan aman bagi lingkungan. Misalnya dengan memasak bahan baku serat dalam air pada suhu dan tekanan atmosfir, atau jika memungkinkan menggunakan bejana bertekanan. Serat yang telah lunak kemudian diuraikan menggunakan blender dan siap untuk digunakan sebagai pencampur dalam pembuatan lembaran/karton buatan tangan menggunakan peralatan sederhana. Sebagai bahan serat utama, dapat digunakan serat daur ulang dari kertas/karton bekas. Sebagai biasan pada lembaran dapat ditambahkan berbagai ornamen yang unik seperti kulit bawang yang telah dipotong-potong halus, daun, kelopak bunga dengan warna-warni yang menarik dan ornament lainnya.

Konsep ini memang agak berbeda dengan ide produk kertas tisu napkin yang saya temui dan amati diatas, namun setidaknya ide kreatifnya dapat direalisasikan dalam bentuk lain dengan memanfaatkan potensi yang ada.

(Gambar adalah koleksi pribadi Indriati, L., Juni 2026)

Tinggalkan Komentar

Komentar

0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Footer Gradient Example